Indonesia Yakinkan Investor Asing

Posted on April 14, 2007. Filed under: Uncategorized |

Sabtu, 14/04/2007
WASHINGTON (SINDO) – Menko Perekonomian Boediono mengatakan, Indonesia sedang berusaha mengembalikan kondisi perekonomian seperti periode sebelum krisis 1997–1998.

Perekonomian yang mulai membaik serta kehidupan politik dalam negeri yang stabil memungkinkan pemerintah fokus melakukan program reformasi. ”Gambaran ekonomi makro yang membaik serta keadaan plitik dan kelembagaan yang makin stabil memungkinkan kami untuk berubah dengan memfokuskan energi pada agenda reformasi,” ujar dia saat berbicara di depan forum Dewan Bisnis ASEAN-Amerika Serikat,kemarin. Seperti dilaporkan koresponden SINDO dari Washington Irawan Nugroho, Boediono menjelaskan, Indonesia tidak lagi dapat menunda-nunda reformasi tersebut karena masyarakat internasional mulai menunjukkan ketidaksabarannya atas lambatnya perubahan di Indonesia.

Namun, keterlambatan tersebut merupakan buah dari perkembangan demokrasi di Indonesia. Pasalnya, setiap membuat suatu kebijakan, pemerintah mesti membicarakannya dengan parlemen maupun pemangku kepentingan lain.”Harapannya memang tinggi bahwa reformasi yang signifikan akan terjadi lebih cepat dari sebelumnya. Tapi,kami harus menerima bahwa sekarang ini kami dihadapkan pada realitas yang baru,” ujar Boediono.

Dia mengatakan, target pertumbuhan ekonomi 2007 sebesar 6,3% merupakan penambahan yang sangat besar dibandingkan angka pertumbuhan tahun lalu, yang hanya mencapai 5,5%. Namun, pada tahun depan, persepsi investasi diharapkan akan membaik seiring dengan momentum reformasi. Dengan demikian,hal itu diharapkan dapat mendorong perekonomian tumbuh pada level 6,8%.

Bahkan, bukan tidak mungkin pertumbuhan ekonomi akan mencapai angka 7%. Boediono mengatakan, UU Penanaman Modal yang baru disahkan akan memberikan kepastian bagi investor asing. Selain itu, pemerintah juga tengah memformulasikan berbagai peraturan guna mendukung UU tersebut seperti perizinan dan reformasi perpajakan. Demikian pula dengan sistem pelayanan satu pintu (national single window) yang dapat mengurangi beban biaya tinggi.

Boediono mengatakan bahwa ekonomi Indonesia diharapkan akan mengalami pertumbuhan yang tinggi dengan UU PM yang baru. Sebab, UU itu akan menarik lebih banyak lagi investor asing, terutama dari Amerika Serikat (AS). ”Dari dulu AS selalu berminat dalam sektor perminyakan dan pertambangan. Tapi, kami juga mengharapkan peningkatan investasi dari Jepang dan Korea dengan industri manufaktur mereka,” ujarnya. Boediono mengatakan, pertumbuhan investasi asing di Indonesia tidak sesuai dengan yang diharapkan selama ini, termasuk investasi dari Jepang yang saat ini menduduki peringkat pertama.

”Kalau dilihat trennya tidak seperti dulu yang meningkat dengan begitu cepat,” katanya. Data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebutkan, lima negara terbesar investor di Indonesia adalah Jepang dengan USD39,4 miliar, Inggris (USD35,1 miliar), Singapura (USD 8,4 miliar), Hong Kong (USD20,9 miliar), dan Taiwan (USD13,4 miliar). Di tempat terpisah, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) berharap tingkat risiko usaha segera turun. Sebab, penurunan risiko usaha akan mendorong fungsi intermediasi perbankan.

Ketua Umum Hipmi Sandiaga S Uno mengatakan, tingkat suku bunga pinjaman yang tinggi bukan penyebab tunggal lambannya realisasi kredit perbankan. Hal ini dibuktikan dari jumlah kredit yang sudah mendapatkan persetujuan tapi belum dicairkan. ”Dari undisbursed loan itu sampai sekarang ini tidak ada kejelasan kapan dikucurkan. Rupanya, itu karena masalahnya risiko usaha itu masih tinggi,” kata Sandiaga saat berkunjung ke redaksi SINDO di Jakarta, kemarin.

Dia menuturkan, penurunan risiko usaha harus dilakukan semua pihak, termasuk pemerintah dan kalangan dunia usaha. ”Semua pengambil kebijakan harus mencoba menurunkan tingkat risiko usaha. Kemudian mungkin pengusaha bisa bantu dari sisi peningkatan produktivitas dan kinerja. Pemerintah bisa bantu dari regulasi,sementara perbankan bisa dari memperbaiki sistem penjaminan (kredit),”kata dia. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, masalah sektor riil saat ini bukan lagi pada dukungan perbankan yang minim, tapi pada kepastian usaha.”Perbankan sudah tidak masalah, sekarang tinggal bagaimana usaha ini bisa jalan,” kata dia. Sofjan mengatakan, untuk menurunkan risiko usaha, pemerintah harus berupaya menekan ekonomi biaya tinggi. (AFP/ aria yudhistira/ muhammad ma’ruf)


Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: