|
Rupiah pekan ini berpeluang menguat ke posisi Rp9050–Rp9150 per USD dibandingkan penutupan pekan kemarin (13/4) pada level Rp9.097 per USD.
JAKARTA (SINDO) –Menguat 20 poin dibandingkan penutupan pekan sebelumnya, Kamis (5/4), sebesar Rp9.100 per USD. Ekonom Standar Chartered Fauzi Ikhsan menyatakan, hal ini seiring sentimen positif dari membaiknya perekonomian Jepang yang berimbas kuat pada perekonomian regional di kawasan ASEAN.
Kendati demikian, ungkap dia, rupiah tetap butuh waktu lama untuk penyesuaian bergerak akibat indikasi positif dari kawasan regional tersebut.’’Kecuali,jika kemudian perekonomian Jepang mengimbas langsung pergerakan saham di Bursa Efek Jakarta (BEJ), barulah rupiah akan cepat bergerak,” tutur Fauzi kepada SINDO,pukul 10.00 WIB,tadi pagi.
Menurut dia, rupiah biasanya baru akan terimbas kuat jika terjadi aliran modal masuk dan keluar Indonesia.Namun,jika hanya beberapa wacana tanpa ada aksi yang pasti,rupiah cenderung tidak bergerak signifikan. Terkait skandal Wolfovitz yang ramai mewarnai perekonomian global, tutur Fauzi, relatif tidak berpengaruh.
Sebab, skandal presiden Bank Dunia itu akan berpengaruh pada politik Amerika dan kebijakan bank multilateral itu pada negara-negara berkembang yang jadi relasinya. ’’Kalau skandal itu, rasanya terlalu jauh bisa memengaruhi rupiah,” tuturnya.
Sementara, analis BNI Ryan Kiryanto menyatakan,rupiah akan bergerak menguat di level Rp9.000- –Rp9.100 per USD.Hal ini dipicu indikator makroekonomi yang semakin membaik.Di antaranya,ekspektasi inflasi April yang lebih rendah daripada Maret.”Maret–April ini, harga sembako relatif akan stabil dan mampu menekan inflasi ke level lebih rendah,” tuturnya kepada SINDO,pukul 10.00 WIB. (kurniana ufik)
6. DUIT PANAS
Waspadai Goyangan Hedge Fund
Wahyu Tri Rahmawati, Hari Widowati
posted by kontan on 04/16/07
JAKARTA. Negara-negara industri maju yang tergabung dalam G7 pun mulai gerah terhadapaksi hedge fund yang geraknya masih leluasa dan minim pengawasan. Dalam pertemuan Jumat-Minggu pekan lalu,G7 mengingatkan goyangan hedge fund bisa megancaman sistem keuangan dunia.
Negara-negara berkembang seperti Indonesia seharusnya juga waspada. Sebab, pasar negara-negara berkembang (emerging markets) sering jadi sasaran investasi hedge fund.
Menurut Purbaya Yudhi Sadewa, Kepala Riset Danareksa Research Institute, hedge fund identik dengan investor pembawa uang panas. Biasanya mereka memilih investasi jangka pendek seperti saham yang bisa dimasuki dalam waktu singkat dan ditinggalkan setelah mendapatkan untung besar. “Hedge fund itu spekulatif sekali. Dia tidak menunggu puluhan bulan tapi biasanya hanya pendek sekali. Itu yang ditakutkan oleh orang-orang karena risikonya lebih tinggi,” ujar Purbaya, Minggu (15/4).
Menurut Purbaya, hedge fund bisa menempatkan dananya di negara maju maupun negara berkembang yang bursanya belum stabil. Ia menduga, mereka juga sudah masuk Indonesia. “Tadinya pasar saham kita lamban, tapi begitu harga-harga mulai naik dan menjanjikan, mereka banyak yang masuk sekarang,” tuturnya.
Menurut Fauzi Ichsan, Ekonom Pasar Global Standard Chartered Bank, hedge fund masuk ke Indonesia dan negara-negara yang memberikan tingkat suku bunga tinggi karena mereka memburu imbal hasil Bahayanya, hedge fund masuk ke suatu negara dengan dana dalam jumlah besar. Dus, jika mereka tiba-tiba keluar, bisa menimbulkan ketidakstabilan moneter. “Begitu mereka menarik dananya beramai-ramai, jeblok pasar modal kita,” tandasnya.
Menurut data HedgeFund Intelligence, kini, dana yang dikelola oleh hedge fund internasional mencapai sekitar US$ 2 triliun. Laporan Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) pada Februari 2007 juga menyebutkan aliran modal ke negara-negaraberkembang meningkat pesat. Selain menunjukkan ada perbaikan fundamental ekonomi, hal itu juga cermin bahwa negaraberkembang jadi pasar bagi pemburu imbal hasil (yield).
Kata Fauzi, untuk mencegah dampak penarikan modal hedge fund, Indonesia harus memperkuat fundamental ekonominya. Kini, indikator fundamental ekonomi kita cukup kuat. Tapi, prestasi itu harus dipertahankan dalam waktu lama agar investor percaya dan betah berinvestasi di Indonesia.
7.IHSG Berpeluang Menguat di Level 1.971
Rabu, 18 April 2007 | 09:04 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) masih berpeluang terus menguat. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh sentimen regional yang juga mengalami penguatan kembali.
Analis pasar modal dari PT Sinarmas Sekuritas, Alfiansyah, memperkirakan, indeks pada pembukaan sesi perdagangan pertama Rabu (18/4) pagi ini berada di level 1.971. Ini berarti menguat sekitar 6 poin dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin yang berada di level 1.965 .
“Kalau tren bagus, target resistennya bisa mencapai level 1.992,” kata Alfiansyah, pagi ini.
Menurut dia, kenaikan indeks itu dipengaruhi ekspektasi membaiknya kinerja emiten pada kuartal I dari pada periode sebelumnya. Sebab, faktor penurunan suku bunga dianggap juga akan menurunkan biaya operasional emiten.
Selain itu, kata dia, penguatan juga dipicu naiknya saham pertambangan seperti Antam, Timah dan Inco. Kenaikan ini terkait dengan melonjaknya harga komoditi sektor pertambangan secara signifikan. “Pengaruhnya cukup kuat terhadap pergerakan saham,” tuturnya.
Dia menambahkan, saham-saham berkapitalisasi besar (blue chips) seperti Telkom dan Astra diperkirakan juga memberikan pengaruh kuat terhadap penguatan indeks hari ini. Sedangkan di sektor perbankan, Bank Mandiri yang berhasil menurunkan rasio kredti seret (NPL) dan dianggap akan memberikan prospek bagus bagi perseroan, juga akan mempengaruhi indeks.
|